Gong Xi Valentine’s Day!

Apakah anda merayakan imlek? Kalau iya, pasti sangat berterima kasih kepada Gus Dur. Karena jasanya, sekarang anda sudah dapat merayakan Tahun Baru Cina atau yang populer dengan sebutan Imlek, tanpa sembunyi-sembunyi. Kalau pun anda tidak merayakan Imlek, sudah seharusnya berterima kasih juga pada beliau. Karena, mendapat tambahan 1 hari libur gratis dari pemerintah hehehe..

Pada tahun ini, Tahun Baru Cina 2561 jatuh pada tanggal 14 Februari, bersamaan dengan Valentine’s Day. TMbookstore di Depok Town Square pun tidak mau kalah untuk ikut meramaikan dua perayaan tersebut. Sudah sejak seminggu sebelumnya, toko didandani dengan nuansa merah dan beberapa lampion yang tergantung di depan pintu masuk.

Pada hari H, jam 14.00 kami dan Klub buku Goodreads Indonesia (GRI), kembali menggelar acara kumpul-kumpul. Semua peserta yang datang pun didaulat untuk memakai baju bernuansa merah atau pink. Dan inilah hasilnya.

Pada sesi pertama, kami membedah buku ‘The Death to Come’ yang ditulis oleh Tyas Palar. Buku dengan tebal 354 halaman ini bercerita mengenai penyihir pada jaman merlin (abad ke – 14) di Eropa. Tokoh utamanya adalah Edward Twickenham, seorang penyihir yang memiliki talenta misterius, lalu ada Ivar Eidfjord, seseorang yang mempunyai kemampuan alami untuk melihat masa depan dengan sekilas. Ada pula Junda, penyihir dengan Cermin Ajaibnya yang dapat digunakan untuk menemukan orang. Dan juga Tariq. Rencananya, buku ini adalah buku pertama dari rangkaian trilogi.

Acara yang dimoderatori oleh Harun, salah seorang anggota klub buku GRI, berlangsung cukup seru, karena berhasil memancing Mbak Tyas untuk mengungkapkan rahasia ‘dapur’ dalam proses penyusunan bukunya. Begitu juga dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta bedah buku ini.

Sesi kedua adalah sesi berbagi: ‘Menulis Review dari Curhat sampai Telaah Karya’ bersama Mas Bambu (Bambang Budjono) — wartawan/penulis kaya pengalaman di Majalah Tempo, D&R, Trust, Venue, dan Bang Damhuri (Damhuri Muhammad) — penulis resensi/kritikus sastra di berbagai media cetak dengan moderator Mbak Lita dari GRI. Di sesi ini, para peserta mendapat banyak sekali masukkan dari mereka berdua.

Mas Bambu, yang selalu berbicara straight to the point mengatakan dengan tegas, resensi adalah sebuah karya dalam menulis. Jadi harus mempunyai kemampuan menulis yang baik. Bagaimana caranya? Ya, dengan cara menulis terus menerus. Ada seorang bijak yang mengatakan, “ To write is to write is to write is to write” . Setuju, Mas.

Bang Damhuri pun juga menyemangati para peserta untuk tidak putus asa dalam berlatih menulis. Intinya, dalam membuat suatu resensi, harus bisa membuat pembaca mengetahui isi buku yang kita buatkan resensinya. Dan tidak perlu takut jika memberikan kritik terhadap isi dan cara penulisan sebuah buku. Sebab, tidak semua kritikkan membuat buku tersebut menjadi tidak laku. Mas Bambu pun langsung menambahkan, “Bukankah buku yang dilarang oleh pemerintahlah yang laku?” Hiyaah… benar juga ya…

Mereka berdua sangat sepakat, bahwa judul dan alinea pertama memiliki peranan yang sangat penting. Jika judulnya saja yang menarik, tetapi alinea pertama tidak ada sesuatu yang membuat orang ingin meneruskan membaca, percuma. Begitu juga sebaliknya. Walaupun isi tulisannya bagus, tetapi judulnya tidak kreatif, akan membuat malas orang untuk mulai membacanya.

Diskusi berlanjut dengan sesi tanya jawab yang cukup panjang. Hingga tak terasa, waktu pun bergulir dengan cepat. Akhirnya, kami pun harus menyudahi acara ini dengan rasa penasaran yang masih belum terpuaskan, karena masih ingin menggali ilmu dari Mas Bambu dan Bang Damhuri.

Di akhir acara, sebagai ucapan terima kasih dari TMbookstore dan Klub Buku GRI, Mas Bambu dan Bang Damhuri diberikan kenang-kenangan berupa buku, mug dan voucher berbelanja. Terima kasih banyak ya, Mas dan Bang!

Oh iya, kami terbuka sekali untuk menerima tulisan resensi buku dari teman-teman semua. Nantinya, untuk tulisan terbaik, akan kami muat di website dan di mading toko Kedoya dan Depok Town Square. Kirim ke info@tmbookstore.com Kami tunggu ya…

Salam,

TMbookstore

Bedah Buku “KEMAMANG”

Pada acara bedah buku kali ini, yang  dibahas adalah buku karangan Koen Setyawan dengan judul Kemamang.

Dengan tebal 315 halaman, buku yang ber-genre science fiction ini bercerita tentang dua orang mahasiswa peneliti yang terpisah dari rombongannya di  kaki Gunung Lawu. Mereka kemudian tersesat di desa yang memiliki legenda kemamang.  Dari sinilah cerita penuh misteri ini berawal.

Acara yang dilaksanakan di TMbookstore, Depok Town Square pada tanggal 6 Februari 2010 ini cukup banyak dihadiri oleh pengunjung yang penasaran dengan latar belakang penulisan serta isi bukunya. Maka setelah mendengarkan cerita dari Mas Koen, mereka langsung membeli bukunya dan meminta tanda tangan penulisnya.

Seperti apa kisah seru cerita ini? Beli bukunya di TMbookstore yah. Ada diskon regular 15%. Kalau beruntung, bisa dapat tambahan diskon lagi di program best price.

OK. Sampai bertemu di bedah buku selanjutnya ya.

Salam,

TMbookstore

Cat : jika ada usulan buku untuk dibahas di TMbookstore, kirim e-mail ke info@tmbookstore.com Semoga kami bisa mewujudkannya!

Judul buku Kemamang Penulis Koen Setyawan Penerbit Penerbit Goodfaith Edisi 2009 Tebal 315 halaman Hari dan Panji, dua mahasiswa peneliti harimau Jawa, terpisah dari rombongan saat menyusun kaki Gunung Lawu, yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Mereka tersesat di sebuah desa yang lekat dengan legenda bernama kemamang.

Kemamang adalah sebuah cahaya yang selalu muncul pada malam han di Danau Bakalan di desa itu. Kejadian beruntun, berupa terbunuhnya ternak penduduk secara misterius serta hilangnya anak kecil, menggegerkan warga desa. Ditambah suara gamelan dari dalam hutan, danau itu pun kian angker.

Jejak-jejak kaki raksasa dan bayangan raksasa mirip buaya bercakar menambah misterius danau tersebut.